Wadah inspirasi dan cerminan sikap para pemimpin muda

                                                          WADAH INSPIRASI DAN CERMINAN SIKAP

InspirasikuPARA PEMIMPIN MUDA

Oleh : Jaw@Hir

Pemimpin adalah seorang public figure yang selalu mendapatkan perhatian dari masyarakat, karena sebagai seorang pemimpin senantiasa mendapati berbagai keluhan masyarakat. Acap kali ia dapati berbagai aspirasi, hingga akhirnya mampu mengembangkan daya pikir dan pengetahuannya dalam memberikan sebuah putusan. Dengan keahlian itulah, ia dan rekan-rekannya mampu menciptakan berbagai inspirasi program yang ideal. Meskipun begitu, pemantapan dan realisasi rancangan program tidaklah semudah mengedipkan mata. Ditambah lagi dengan batas waktu yang minim, sehingga tidak memungkinkan untuk pencapaian yang maksimal dari berbagai program yang telah direncanakan.

Melihat kondisi seperti ini, tentu akan menjadi masalah dan masa-masa yang sulit bagi para pemimpin muda, namun sebaliknya akan mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi warganya jika mengenal betul bagaimana sosok pemimpin sebenarnya. Paling tidak ada enam elemen kepemimpinan dimana keberhasilan dapat mereka raih, diantaranya seorang pemimpin harus mampu menyelesaikan masalah, mau menyelidiki, bisa mengambil keputusan, punya inisiatif, memberi dorongan, dan mengevaluasi kinerja.

Organisasi tidak akan lepas dari berbagai permasalahan, karena adanya ketidak sepadanan dari pihak lain, baik intern organisasi maupun ekstern yang dikenal dengan konflik. Perlu pendekatan khusus dalam mengelola konflik untuk menyelesaikan permasalahan. Diantaranya dengan menghadirkan berbagai pihak yang berkonflik agar mau menjelaskan masalah dan berbagi persepsi. Dengan begitu ada sikap keterbukaan untuk mengurangi konflik hingga masalah dapat terselesaikan bersama tanpa merugikan pihak lain. Itupun harus tahu berbagai informasi berbagai pihak.

Pemimpin membutuhkan informasi yang komprehensif (luas) mengenai tanggung jawab yang ia pikul. Oleh karenanya, ia perlu mempelajari latar belakang masalah, berbagai prosedur yang harus ditempuh, serta mengenal orang-orang yang terlibat dalam organisasi yang ia bidangi. Sehingga perlu adanya langkah-langkah penyelidikan, dan interaksi hingga pada akhirnya aspek potensi dari organisasi yang mencuat akan mampu termanfaatkan dengan maksimal dengan memberikan putusan-putusan yang revolusioner.

Keputusan yang baik harus bisa memberikan keuntungan bagi banyak orang, tidak berdasarkan sikap keegoisan dan sepihak. Banyak keputusan yang dianggap baik, namun tidak jarang pula diketemukan penyesalan pada akhirnya. Tipe kepemimpinan otokratis ini yang sering menuai permasalahan pada tiap kebijakan. Berbeda dengan demokratis yang menyertakan kelompoknya sebagai bahan pertimbangan kebijakan. Setelah penentuan keputusan atas pertimbangan kelompok, juga perlu tindakan sebagai wujud konkretnya untuk bisa dinilai.

Pemimpin yang sudah banyak makan asam garam, tentu tidak akan ragu untuk mengambil inisiatif atau tindakan karena luasnya cakrawala pengalaman yang telah ia peroleh, walaupun dengan inisiatifnya tidak akan menjamin terhindarkan dari berbagai risiko yang akan diperoleh. Namun  begitu, dengan keberaniannya itu paling tidak akan mampu merubah suatu kondisi yang andai hasilnya kadang tidak sama dengan angan-angan yang semestinya diidealkan. keyakinannya ini sudah cukup bahwa “Setiap tindakan memiliki risiko dan harga yang harus di bayar, jika kita tidak mengambil tindakan apa-apa, malahan akan berisiko jangka panjang walaupun pada awalnya itu terasa nyaman.”

Guru besar kita Ki Hajar Dewantara berkata; Ing ngarso sung tuladha (di depan sebagai contoh), ing madya mangun karso (di tengah memberi semangat), tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan). Sebuah ungkapan yang mebekas dalam benak kita. Keraguan dan kebimbangan biasa muncul dalam mengambil keputusan. karena dirasa adanya ide dari yang bersangkutan kurang mampu mempertahankan, maka tugas seorang pemimpin harus mampu memberikan semangat dan dorongan bagi rekan-rekannya, bahwa tidak ada hal yang mustahil untuk bisa diraih dan berat dikerjakan bila sesuatu dilakukan dengan bersama. Kalaupun dalam target ketercapaian  dan tindakan ada kesenjangan, maka perlunya evaluasi sebagai tindakan preventif untuk program selanjutnya adalah hal yang bijak.

Mengevaluasi tidaklah sama dengan mengkritik yang cenderung menilai sesuatu dari baik buruk saja dan sifatnya lebih pribadi. Mengevaluasi (critique) cenderung berorientasi pada pekerjaan sehingga orang akan belajar bagaimana meningkatkan efektivitas. Dengan begitu tidak saja membawa perubahan dimasa mendatang namun juga menghindarkan konflik dengan pihak lain. Itu semua adalah proses panjang yang ditempa para pendahulu kita.

Melihat segudang pengalaman mereka mulai dari  berbagai program rencana yang telah terealisasi hingga akhirnya dapat kita rasakan sekarang, Ternyata  mereka meninggalakan beberapa tanggungjawab yang sengaja mereka sisakan untuk para pemimpin muda. Diamping waktu yang  tidak memungkinkan untuk mencapai kesemua program, mereka berasumsi kalau era para pemimpin muda bagaikan kelahiran awal dari keberhasilan yang tertunda. Itu akan terjadi, jika pengalaman, pertimbangan selalu mereka mintai dari pendahulunya dan tidak merasa bisa menghadapi masalah sendirian. Karena suatu organisasi didirikan atas asas tujuan yang sama, walau eranya telah berbeda. Hingga untuk mewujudkannyapun perlu sikap keberlanjutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s